berikut bebarapa cara menyikapi perilaku kanak-kanak

(bagian pertama)

*Agresivitas seperti suka memukul, mencubit, menggigit dan tingkah laku agresif lainnya.

tindakan ini adalah normal untuk anak usia satu sampai dua tahun. kemampuan bahasa yang terbatas, keinginan untuk melakukan sesuatu sendiri dan belum adanya kontrol kemuan di otak membuat kanak-kanak berperilaku agresif.

bagaimana cara menghadapinya:

1. tenang: tetap tenang dan kendalikan amarah. memukul, berteriak, atau mengeluarkan kata2 yang tidak baik hanyalah suatu kesia-siaan, tidak mencegak kanak2 menghentikan sikap agresifnya justru akan menambah kemarahannya dan memberi contoh yang tidak baik baginya. justru dengan bersikap tenang bisa menjadi langkah awal si kecil untuk belajar mengontrol kemarahannya.

2.beri batas yang jelas: segera memberi respon bila anak agresif. jangan tunggu ia sampai memukul adiknya untuk ketiga kalinya baru anda menegurnya. ia harus tau bahwa perbuatannya itu salah. beberapa saat ia akan belajar menghubungkan perbuatan dan akibanya dan ia akan menyadari, bila ia berbuat agresif maka ia akan tersingkir.

3. konsekwensi logisa: jika anak melempar bola ke sekelompok anak yang sedang bermain segeralah singkirkan dia, duduklah disisinya dan melihat anak2 yang lain bermain. jelaskan bahwa ia bisa bermain tanpa menyakiti teman2nya dan tunggulah sampi ia siap bermain. hindari beralasan dengannya misal dengan mengatakan “gimana kalu adek dilempar bola sama teman?” kanak-kanak belum mempunyai pikiran dewasa atau matang dengan membayangkan posisinya ada diposisi orang lain atau berubah tingkah lakunya karena perbuatan tadi. tapi ia mengerti apa akibat atau konsekwensinya.

4. ajakan alternatif: tunggu sampai anak tenang dan jelaskan apa yang sedang terjadi, tanyakan padanya apa yang membuatnya marah, katakan padanya bahwa marah itu wajar tapi tidak boleh ditunjukkan dengan memukul, menggigit, menendang dll. ajarkan cara efektif bila ia sedang marah misal kepada adiknya dengan mengatakan “adik jangan begitu” atau “adik jangan nakal” dsb, dan ajarkan padanya agar meminta bantuan, pada kakaknya atau orang tua. ajarkan agar ia mengerti kata maaf, saat ia melakukan kesalahan ia harus meminta maaf. mungkin awalnya sulit tapi lama kelamaan ia akan terbiasa bila ia berbuat salah ia akan mudah untuk meminta maaf.

5.disiplin secara konsisten: sedapat mungkin merespon setiap tingkah laku, bila tiap tingkah laku tidak baik diberi time out maka ia akan sadar konsekwensi dari sikap/tindakannya.

*dari berbagai sumber